Tampilkan postingan dengan label Profil Perusahaan Tambang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil Perusahaan Tambang. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Januari 2012

Profil Perusahaan : PT.Aneka Tambang


PT Antam Tbk, adalah salah satu pelopor industri pertambangan dan pengolahan mineral di Indonesia. Aktifitas usaha utama Aneka Tambang terintegrasi mulai dari eksplorasi, penambangan, pengolahan, pemasaran dan perdagangan atas komoditas inti, yaitu nikel dan emas serta produk lainnya berupa bauksit dan pasir besi. Selain itu Perusahaan juga mempunyai kompetensi dalam jasa geologi dan eksplorasi yang dapat dimanfaatkan oleh pihak ketiga.
Aneka Tambang didirikan pada tanggal 5 Juli 1968, sebagai hasil penggabungan tujuh Badan Usaha Milikk Negara. Pada tahun 1997, Aneka Tambang melaksanakan program privatisasi dan mencatatkan sahamnya pada Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES). Privatisasi tersebut telah meningkatkan modal Perusahaan yang akan digunakan untuk ekspansi fasilitas produksi.

a). Visi dan Misi perusahaan
Untuk memberikan pedoman bagi Perusahaan dalam menjalankan usahanya untuk pencapaian target tertentu maka Perusahaan telah menyusun suatu visi dan misi Aneka Tambang yaitu :
Visi Perusahaan :
-menjadi perusahaan pertambangan berstandar Internasional yang memiliki keunggulan kompetitif di pasar global.
Misi Perusahaan :
-Menghasilkan produk-produk berkualitas tinggi yaitu nikel, emas dan mineral lain dengan mengutamakan keselamatan dan kesehatan kerja serta memperhatikan kelestarian lingkungan.
-Beroperasi secara efisien (berbiaya rendah) .
-Memaksimalkan shareholders dan stakeholders value .
-Meningkatkan kesejahteraan pegawai.
-Berpartisipasi dalam upaya menyejahterakan masyarakat di sekitar daerah operasi pertambangan.

Industri pertambangan termasuk Aneka Tambang dalam dekade terakhir ini untuk memenuhi performance-nya harus memperhatikan Triple Bottom line artinya tidak nanya mempernatlkan dari sisi kinerja keuangan I profit tetapi juga masalah lingkungan dan pengembangan masyarakat (ComDev). Komitmen Aneka Tambang terhadap ketiga hal tersebut dinyatakan dalam Visi dan Misi perusahaan.

b). Unit Bisnis dan Kegiatan Operasional
Aneka Tambang memiliki 6 (enam) unit usaha yang terdiri dari 5 (lima) unit bisnis dan 1 (satu) unit jasa yaitu Unit Bisnis Pertambangan Nikel, Unit Bisnis Pertambangan Emas, Unit Bisnis Pemurnian dan Pengolahan Logam Mulia, Unit Bisnis Pertambangan Bauksit, Unit Bisnis Pertambangan Pasir Besi dan Unit Geomin.
Kegiatan operasional Aneka Tambang tersebar di seluruh Indonesia yaitu untuk komoditi nikel di Pomalaa - Sulawesi Tenggara dan Tanjung Buli Halmahera, emas di Gn. Pongkor dan Cikidang. - Jawa Barat; bauksit di Kijang; pasir besi di Cilacap – Jawa Tengah dan pengolahan dan pemurnian logam mulia di Jakarta.

c). Eksplorasi,. Pengembangan dan Joint Venture
Aneka Tambang sebagai perusahaan pertambangan memanfaatkan sumber daya mineral sebagai dasar kegiatannya. Karena karakteristik sumber daya mineral yang dieksploitasi Aneka Tambang adalah tidak dapat diperbaharui atau suatu saat akan habis maka cadangan yang sekarang dimiliki Aneka Tambang bila dieksploitasi juga akan habis. Sehingga apabila Aneka Tambang tetap ingin exist maka harus menemukansumber daya mineral baru atau menambah cadangan yang dimilikinya dengan cara selalu melakukan eksplorasi secara terus-menerus.
Unit Geomin sebagai unit yang ditugasi untuk melakukan eksplorasi telah berhasil menemukan cadangan baru emas Gn. Pongkor pada tahun 1988 dan cadangannikel di Halmahera. Kegiatan eksplorasi Aneka Tambang saat ini mulai dari P. Sumatr sampai P. Halmahera dengan jenis komoditi terutama emas, nikel dan bauksit.
Disamping kegiatan yang dilakukan oleh Aneka Tambang sendiri, perusahaan juga melakukan kerjasama (Joint Venture dan Contract of Work) dengan mitra asing. Sebagaimana layaknya perusahaan yang harus berkembang, Aneka Tambang juga melakukan pengembangan usaha yaitu antara lain dengan penambahan kapasitas produksi FeN; dari 11.000 ton Ni menjadi 24.000 ton Ni, persiapan Proyek chemical grade alumina di Tayan, Kalimantan Barat dan pengkajian pengembangan nikel kadar rendah dengan teknologi HPAL di Halmahera.

Selasa, 10 Januari 2012

Masalah Pertambagan


Pertambangan di Indonesia dimulai berabad-abad lalu. Namun pertambangan komersial baru dimulai pada zaman penjajahan Belanda, diawali dengan pertambangan batubara di Pengaron- Kalimantan Timur (1849) dan pertambangan timah di Pulau Bilitun (1850). Sementara pertambangan emas modern dimulai pada tahun 1899 di Bengkulu–Sumatera. Pada awal abad ke-20, pertambangan pertambangan emas mulai dilakukan di lokasi-lokasi lainnya di Pulau Sumatera. Pada tahun 1928, Belanda mulai melakukan penambangan Bauksit di Pulau Bintan dan tahun 1935 mulai menambang nikel di Pomalaa-Sulawesi.
Setelah masa Perang Dunia II (1950-1966), produksi pertambangan Indonesia mengalami penurunan. Baru menjelang tahun 1967, pemerintah Indonesia merumuskan kontrak karya (KK). KK pertama diberikan kepada PT. Freeport Sulphure (sekarang PT. Freeport Indonesia). Berdasarkan jenis mineralnya, pertambangan di Indonesia terbagi menjadi tiga kategori,yaitu:
1. Pertambangan Golongan A, meliputi mineral-mineral strategis seperti: minyak, gas alam, bitumen, aspal, natural wax, antrasit, batu bara, uranium dan bahan radioaktif lainnya, nikel dan cobalt.
2. Pertambangan Golongan B, meliputi mineral-mineral vital, seperti: emas, perak, intan, tembaga, bauksit, timbal, seng dan besi.
3. Pertambangan Golongan C, umumnya mineral-mineral yang dianggap memiliki tingkat kepentingan lebih rendah daripada kedua golongan pertambangan lainnya. Antara lain meliputi berbagai jenis batu, limestone, dan lain-lain.
Eksploitasi mineral golongan A dilakukan Perusahaan Negara, sedang perusahaan asing hanya dapat terlibat sebagai partner. Sementara eksploitasi mineral golongan B dapat dilakukan baik oleh perusahaan asing maupun Indonesia. Eksploitasi mineral golongan C dapat dilakukan oleh perusahaan Indonesia maupun perusahaan perorangan. Adapun pelaku pertambangan di Indonesia dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu Negara, Kontraktor dan Pemegang KP (Kuasa Pertambangan). Selanjutnya beberapa isu-isu penting permasalahan pada pertambangan, adalah ketidakpastian kebijakan, penambangan liar, konflik dengan masyarakat lokal, konflik sektor pertambangan dengan sektor lainnya.
1.1 Ketidakpastian Kebijakan
Hal ini mengakibatkan tidak adanya jaminan hukum dan kebijakan yang dapat menarik para investor asing untuk menanamkan modal di Indonesia. Menurut Pricewaterwaterhouse Coopers (PwC), dalam laporan Indonesian Mining Industry Survey 2002, kekurangpercayaan investor terlihat dari penurunan eksplorasi dan kelayakan, serta pengeluaran untuk pengembangan dan aktiva. Tahun 2001, pengeluaran menurun 42% dibanding tahun 2000, sedangkan pengeluaran untuk aktiva dan pengembangan tahun 2001 hanya 15% dibanding rata-rata pengeluaran periode 1996-1999. Pengeluaran untuk eksplorasi dan kelayakan tahun 2001 menurun dari rata-rata pengeluaran tahun 1996-1999, sebesar US$ 434,3 juta menjadi US$ 37,9.
1.2 Penambangan Liar
Antara lain hal ini disebabkan oleh lemahnya penerapan hukum dan kurang baiknya sistem
perekonomian, sehingga mendorong masyarakat mencari mata pencaharian yang cepat menghasilkan. Salah satu bentuk penambangan liar yang sering dibicarakan adalah
PETI (Pertambangan Emas Tanpa Ijin). Pertambangan seperti ini banyak ditemui di pedalaman Kalimantan. Di sana masyarakat setempat mendulang emas di sepanjang tepian sungai dengan peralatan tradisional. Salah satu sungai yang ramai oleh pertambangan emas masyarakat adalah Sungai Kahayan. Kegiatan PETI berdampak cukup serius, seperti pendangkalan sungai, terganggunya alur pelayaran kapal oleh pasir gusung, pencemaran air sungai oleh merkuri, dan berkurangnya sumber protein bagi masyarakat (ikan).
1.3 Konflik dengan Masyarakat Lokal
Pada saat produksi, terdapat beberapa potensi konflik, seperti kesenjangan sosial ekonomi, perbedaan sosial budaya, serta munculnya rantai sosial akibat munculnya kluster kegiatan ekonomi beresiko sosial tinggi (premanisme, lokalisasi, dll). Sementara, pada saat pasca pertambangan, terdapat beberapa potensi konflik, seperti pengangguran, klaim terhadap lahan pasca pertambangan, munculnya pertambangan rakyat, dan sisa aktivitas sosial.
1.4 Konflik Sektor Pertambangan dengan Sektor Lainnya
Dalam hal ini misalnya konflik dalam penataan dan pemanfaatan ruang, pelestarian lingkungan, serta konflik pertambangan dengan sektor kehutanan dalam penggunaan lahan hutan lindung untuk kegiatan pertambangan. Penyebab konflik sektor pertambangan dengan sektor lain, antara karena:
1. Sulitnya Mengakomodasi Kegiatan Pertambangan kedalam Penataan Ruang
Hal ini dilatarbelakangi oleh adanya terminologi land use dan land cover dalam penataan ruang. Land use (penggunaan lahan) merupakan alokasi lahan berdasarkan fungsinya, seperti permukiman, pertanian, perkebunan, perdagangan, dan sebagainya. Sementara land cover merupakan alokasi lahan berdasarkan tutupan lahannya, seperti sawah, semak, lahan terbangun, lahan terbuka, dan sebagainya. Pertambangan tidak termasuk ke dalam keduanya, karena kegiatan sektor pertambangan baru dapat berlangsung jika ditemukan kandungan potensi mineral di bawah permukaan tanah pada kedalaman tertentu. Meskipun diketahui memiliki kandungan potensi mineral, belum tentu dapat dieksploitasi seluruhnya, karena terkait dengan besaran dan nilai ekonomis kandungan mineral tersebut. Proses penetapan kawasan pertambangan yang membutuhkan lahan di atas permukaan tanah membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan proses penataan ruang itu sendiri.
2. Sering Dituduh sebagai ’Biang Keladi’ Kerusakan Lingkungan
Kerusakan akibat pertambangan dapat terjadi selama kegiatan pertambangan maupun pasca pertambangan. Dampak lingkungan sangat terkait dengan teknologi dan teknik pertambangan yang digunakan. Sementara teknologi dan teknik pertambangan tergantung pada jenis mineral yang ditambang dan kedalaman bahan tambang, misalnya penambangan batubara dilakukan dengan sistem tambang terbuka, sistem dumping (suatu cara penambangan batubara dengan mengupas permukaan tanah). Beberapa permasalahan lingkungan yang terjadi akibat kegiatan pertambangan, antara lain masalah tailing, hilangnya biodiversity akibat pembukaan lahan bagi kegiatan pertambangan, adanya air asam tambang.
3. Tumpang Tindih Pemanfaatan Ruang dengan Lahan Kehutanan
Hutan merupakan ekosistem alami tempat senyawa-senyawa organik mengalami pembusukan dan penimbunan secara alami. Setelah cukup lama, materi-materi organik tersebut membusuk, akhirnya tertimbun karena terdesak lapisan materi organik baru. Itu sebabnya hutan merupakan tempat yang sangat mungkin mengandung banyak bahan mineral organik, yang potensial untuk dijadikan sebagai bahan tambang.
Saat ini pertambangan sering dilakukan di daerah terpencil, bahkan di kawasan hutan lindung. Menurut TEMPO Interaktif (4 Maret 2003), terdapat 22 perusahaan tambang beroperasi di kawasan hutan lindung dan sempat ditutup. Total investasi 22 perusahaan tersebut mencapai US$ 12,2 miliar (Rp 160 triliun). Kegiatan pertambangan dinilai akan merusak ekosistem hutan lindung, yang berfungsi sebagai kawasan konservasi alam.

Sabtu, 17 Desember 2011

Eksklusif : CSR PT.FI bidang Pendidikan



Pendidikan
Program pengembangan pendidikan yang dilaksanakan oleh PTFI dan Biro Pendidikan LPMAK bertujuan untuk membuka akses seluas-luasnya kepada putra-putri daerah untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Program ini meliputi kegaitan yang berfokus kepada: Dukungan bagi anak dan kaum muda; Dukungan bagi guru dan sistem pendidikan; serta Kemitraan dengan Orangtua dan masyarakat sebagai pemangku kepenti ngan. Dalam implementasinya PTFI dan Biro Pendidikan LPMAK bekerjasama dengan Pemerintah Daerah (Dinas Pendidikan); Lembaga Pendidikan; Konsultan Pendidikan, dan mitra-mitra lainnya.
1. Program Matrikulasi dan Beasiswa
Pada tahun 2010 sebanyak 133 pelajar SMU dan SLTP lulus mengikuti program matrikulasi untuk mengikuti jenjang pendidikan di perguruan tinggi dan SMU di Jawa dan Sulawesi. Proses seleksi dilakukan LPMAK bekerja sama dengan insti tusi pendidikan yang telah ditunjuk di beberapa sekolah di kabupaten Mimika. Selama mengikuti program marti kulasi, kebutuhan para pelajar dipenuhi oleh LPMAK dan selama program berlangsung, evaluasi terhadap pelajar terus dilakukan untuk memasti kan kesiapan mereka mengikuti jenjang pendidikan selanjutnya.
Pada tahun 2010, sebanyak 594 siswa ti ngkat SD hingga ti ngkat sarjana strata 2 menjadi peserta aktif penerima beasiswa dari LPMAK. Di tahun yang sama sebanyak 63 penerima beasiswa telahberhasil lulus dimana 38 diantaranya lulus dari ti ngkatdiploma hingga strata 2.
Sepuluh pelajar sekolah dasar asal Amungme dan Kamoroterpilih untuk mengikuti program pelati han matematikadan ilmu pengetahuan alam selama setahun di SuryaInstitut. Sementara itu empat orang peserta beasiswa LPMAK asal Amungme dan Moni yang mengikuti pendidikan penerbang di Jakarta Aero Flyer Insti tute telah menyelesaikan studinya dan lulus dari program tersebut.Bersamaan dengan kelulusan ini, LPMAK sedang menjajaki
rencana kerjasma dengan beberapa institusi penerbangan untuk mendidik peserta beasiswa asal Papua dengan bidang studi utama sertifikasi pilot ti pe pesawat Cessna guna memenuhi kebutuhan operator transportasi udara dipedalaman Papua.
LPMAK yang diwakili biro pendidikan beserta jajaran manajemen LPMAK secara rut n
melakukan monitoring langsung ke sekolah-sekolah dimana para penerima beasiswa menjalani pendidikannya. Monitoring langsung bertujuan untuk mendapatkan masukan serta memberi motivasi kepada para siswa seperti pemberian komputer jinjing bagi siswa yang berprestasi.
2. Program Asrama Pelajar
Dalam bidang pendidikan yang berfokus pada anak dan asrama, LPMAK telah mensponsori 24 anak baru yang berasal dari distrik Agimuga dan Distrik Mimika Baru untuk bergabung sebagai penghuni baru di asrama Penjunan, Timika. Mereka semua berumur antara 6 hingga 11 tahun yang selanjutnya akan mengikuti pendidikan dasar berbasis asrama ini. Sampai saat ini asrama Penjunan telah menampung sebanyak 86 anak angkatan sekolah dasar.
Sampai akhir tahun 2010 LPMAK bersama dengan mitra-mitra professional dalam bidang
pendidikan telah mengelola 4 asrama putra putri di Mimika dan Jawa Tengah dengan total siswasebanyak 416 orang.
3. Program Peningkatan Sistem Pengajaran dan
Kurikulum
LPMAK melanjutkan pelati han Kurikulum Tingkat Satuan Terpadu (KTSP) yang sudah
dilaksanakan sejak tahun 2009 bekerjasama dengan Edubusiness Consulti ng. Sebanyak 53
peserta yang terdiri dari guru-guru dari 18 SD, 8 SLTP, 2 Yayasan yang beroperasi diwilayah
pesisir dan perwakilan Dinas P & P Mimika turut serta dalam pelati han ini. Pelatihan ini memberikan pengetahuan tentang metoda pengajaran yang tepat guna dan terencana bagi
para guru di wilayah Mimika. Sebagai kelanjutan dari pelati han ini, 10 guru dari program ini
diberangkatkan untuk mengikuti studi banding ke Surabaya dan beberapa kota di Jawa Timur. LPMAK mensponsori enam guru SD di Timika untuk mengikuti pelati han matemati ka di Surya Institut selama 6 bulan. Keenam guru ini berasal dari Amungme dan Kamoro dan terpilih berdasarkan proses seleksi yang dilakukan oleh LPMAK bersama dengan Dinas Pendidikan dan Pengajaran Mimika.
LPMAK telah memulai program Teaching Learning Resource Center (TLRC) dengan mendirikan dua gugus tugas TLRC pada awal tahun 2010 untuk ti ngkat SD dan SLTP. Tujuan dari program ini adalah membantu para guru SD dan SLTP mempersiapkan rencana pengembangan pendidikan di sekolahnya masing-masing. Beberapa alat peraga telah didatangkan untuk mendukung program ini dan SD Penjunan telah ditunjuk sebagai pusat kegiatan TLRC ini sebagai percobaan awal.
Pada bulan November 2010, LPMAK memberikan bantuan keuangan bagi 10 sekolah menengah yang terseleksi. Masing-masing sekolah menerima bantuan Rp 50 juta yang digunakan membantu pembiayaan operasional sekolah dan penyelenggaraan pendidikan. Panduan dan target mengenai bantuan ini telah disosialisasikan kepada semua sekolah agar peruntukan bantuan ini tepat sasaran.
4. Sarana dan Prasarana Pendidikan
Pada tahun 2010, LPMAK menyerahterimakan beberapa fasilitas pendukung kepada Yayasan
Pesat sebagai pengelola asrama dan SD Penjunan. Fasilitas-fasilitas tersebut adalah: 2 unit
rumah guru, satu gudang makanan, satu laboratorium komputer dan sebuah pos keamanan.
Diharapkan semua fasilitas pendukung ini dapat mendukung kegiatan belajar mengajar di area
asrama.
LPMAK mendukung pembangunan enam kelas bagi Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) di
Timika sebagai salah satu perwujudan komitmen bersama dengan pemerintah daerah yaitu
meningkatkan kualitas pendidikan di Papua.
Untuk mendukung pengembangan pendidikan, khususnya di area terpencil, LPMAK membangun
Sekolah Semi Asrama di kampung Tsinga termasuk kelengkapan fasilitas bangku sekolah serta tenaga listrik Microhydro. LPMAK juga telah menyelesaikan sekaligus meresmikan bangunan sekolah dasar di Aroanop. Sekolah yang mampu menampung sekitar 250 murid tersebut secara langsung diserahkan kepada Dinas Pendidikan dan Pengajaran Mimika untuk dioperasikan.
Pada kuartal 4, 2010, LPMAK memulai pembangunan asrama putri Penjunan yang terbakar
pada tahun 2009 lalu, serta memulai pembangunan asrama putra Solus Populi di SP III, Timika. Diharapkan kedua asrama ini dapat dioperasikan pada pertengahan tahun 2011.
5. Kerjasama Dengan Pemangku Kepentingan
Dalam menjalankan program pendidikan, LPMAK terus meningkatkan kemitraan dengan para pemangku kepenti ngan lokal khususnya Pemerintah Kabupaten Mimika (dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Pengajaran). Selama tahun 2010 LPMAK menandatangani perjanjian kerjasama dengan Dinas Pendidikan dan Pengajaran yang berfokus pada peningkatan mutu pendidikan dasar dan menengah di kabupaten Mimika. Hal-hal utama yang ditekankan dalam perjanjian ini adalah: dukungan transportasi udara untuk guru-guru di daerah terpencil; dukungan operasional kegiatan Teaching Learning Resource Center (TLRC); dukungan fasilitas pendidikan; penyediaan suplemen makanan bergizi; serta pemberian pelati han untuk meningkatkan kemampuan
pendidik.
Beberapa kegiatan untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan di kabupaten Mimika telah dilakukan bersama Pemda Mimika, antara lain:
• siswa dari TK Santa Ursula Nawaripi dan SD
Inpres Nawaripi, serta sosialisasi tentang penyakit cacingan dan cara mencuci tangan
yang benar.
• P enyelenggaraan seminar tentang “Model Pendidikan yang Mengakomodasi Kearifan
Lokal”. Seminar ini menghadirkan beberapa ahli pendidikan serta dihadiri oleh 98
peserta. Rekomendasi dari seminar ini selanjutnya akan digunakan sebagai panduan
untuk membuat kebijakan pendidikan di Mimika.
6. Kampanye Pendidikan
Selama tahun 2010 Biro Pendidikan LPMAK bekerjasama dengan Yayasan Binterbusih melakukan pendataan di 5 kampung suku Kamoro yaitu: Koperapoka, Nawaripi, Mware, Kaugapu dan Hiripau yang merupakan desa sasaran kampanye pendidikan tahap pertama. Pendataan ini merupakan bagian dari kampanye pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penti ngnya pendidikan formal bagi anak-anak serta memotivasi para penduduk dewasa dalam mendukung anak-anak mereka yang sedang mengikuti pendidikan. Hasil pendataan tersebut menunjukkan jumlah penduduk usia sekolah di lima kampung tersebut mencapai 494 jiwa, dimana yang akti f berjumlah 244 jiwa, sementara yang putus sekolah dan ti dak pernah mengenyam pendidikan mencapai 250 jiwa. Ditemukan juga bahwa yang menjadi penghambat berkembangnya kesadaran akan pendidikan formal adalah: masalah ekonomi (rendahnya pendapatan); kesehatan dan kebiasaan mengkonsumsi minuman keras (miras).
Menimbang ti ngginya ti ngkat putus sekolah di kelima kampung tersebut, pihak LPMAK dan yayasan Binterbusih merekrut dan melati h 26 relawan yang akan melakukan kampanye
pendidikan secara ruti n serta mengembangkan kelompok-kelompok belajar di wilayah tersebut.Dampak dari kegiatan ini akan dievaluasi secara regular seti ap tahun.
7. Kemitraan Dengan Lembaga Lainnya
PTFI bekerjasama dengan Kedutaan Besar Amerika Serikat melaksanakan program pendidikan bahasa Inggris luar sekolah bagi siswa sekolah menengah di Papua. Program ini mendukung 80 siswa dalam pendidikan bahasa Inggris luar sekolah dan 30 siswa dalam program perkemahan pendidikan bahasa dan keterampilan hidup. Kerjasama ini akan berlangsung selama 2 tahun.
LPMAK juga telah bekerjasama dengan Pemerintah Dearah Propinsi Papua dan PTFI lewat
kontribusinya dalam Olympiade Sains Papua ti ngkat SLTA yang dikoordinir oleh Papuan
Knowledge Center, Jayapura. Untuk kegiatan ini LPMAK menyumbangkan dana sebesar USD35,000.

Kamis, 15 Desember 2011

Ekslusif : CSR PT. Freeport Bidang Kesehatan


Pembangunan di bidang kesehatan merupakan bagian yang terintegral dalam upaya mencapai

tujuan pembangunan berkelanjutan. Maka dari itu pembangunan bidang kesehatan adalah

sangat perlu untuk diupayakan agar dapat menjangkau segala lapisan masyarakat guna

menghasilkan sumberdaya manusia yang sehat, berkualitas dan produkti f. Dengan masyarakat

sehat, maka pertumbuhan sektor lain seperti pendidikan dan perekonomian dapat turut

meningkat.

Tujuan dari pembangunan kesehatan ti dak hanya terbatas pada penyediaan pelayanan kesehatan

yang layak namun lebih jauh lagi dimaksudkan agar masyarakat dapat:

• Hidup dalam lingkungan yang sehat

• Mempraktekkan perilaku hidup sehat dan bersih

• Mampu menyediakan, menjangkau dan mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak

• Memiliki derajat kesehatan yang ti nggi

PTFI dan LPMAK bekerjasama dengan mitra-mitranya terus berupaya mendukung peningkatan

kesehatan masyarakat lewat penyediaan pelayanan kesehatan di Kabupaten Mimika melalui

keberadaan Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM), Rumah Sakit Waa Banti (RSWB) serta

beberapa unit klinik yang tersebar di beberapa kampung target. Di samping itu PTFI dan

LPMAK selalu akti f mendorong inisiati f masyarakat

dan bekerjasama dengan pemangku kepenti ngan

pembangunan di Kabupaten Mimika.

Hingga saat ini telah terjalin hubungan yang cukup erat

antara pemerintah, PTFI dan LPMAK lewat berbagai

kerjasama yang telah disepakati dimana pemerintah

lewat dinas terkait berperan sebagai penyedia sarana

pelayanan kesehatan dan pihak swasta yang dalam hal

ini PTFI dan LPMAK mempunyai fokus lebih besar dalam

pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan.

Untuk meningkatkan efekti vitas Program Pengembangan

Masyarakat PTFI, pada tahun 2010 Departemen Public

Health and Malaria Control (PHMC) PTFI telah diubah

sebagai sebuah secti on pada Departemen Sosial Outreach

and Local Development (SLD). Program-program yang

dijalankan pada secti on ini menggunakan biaya operasional

PTFI dan berfokus pada program kesehatan masyarakat terutama dalam pemberantasan

malaria, TB dan penyakit menular seksual seperti HIV & AIDS; serta menyediakan pelayanan

kesehatan di 4 klinik di 4 lokasi. Secara fungsi PHMC terbagi dua yaitu Community – PHMC

(C-PHMC) dan Industrial – PHMC (I-PHMC). C-PHMC mempunyai fokus pelayanan dan jangkauan

kepada masyarakat umum yang bukan karyawan PTFI dan kontraktor sedangkan I-PHMC lebih

berfokus pada pemangku kepenti ngan di internal perusahaan seperti karyawan dan keluarganya.

Saat ini I-PHMC dikelola oleh Internati onal SOS, bertugas untuk melakukan penyuluhan dan

pemantauan di lingkungan PTFI termasuk pemantauan sisi higienis lingkungan messhall dan

dapur yang dikelola PT Pangansari Utama dalam menyediakan makanan bagi seluruh karyawan

serta fasilitas-fasilitas lain yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat di dalam PTFI.

C-PHMC berada dibawah payung Departemen SLD memiliki tugas memberikan pelayanan

kesehatan yang bersifat preventi f dan kurati f bagi masyarakat umum di beberapa kampung

target seperti pengelolaan klinik SP 12, SP 9, Nayaro dan Pomako. Disamping itu C-PHMC

bekerjasama secara erat dengan LPMAK dan Dinas Kesehatan Kabupaten dalam menjalankan

program kesehatan di puskesmas-puskesmas maupun lokasi-lokasi target. Kegiatan penyuluhan

dan pengendalian penyakit menjadi fokus utama dari kerjasama ini.

1. Program Kesehatan Masyarakat

Program kesehatan masyarakat merupakan bagian dari program pembangunan kesehatan

nasional dengan tujuan utama meningkatkan derajat kesehatan dan kemandirian masyarakat

melalui peningkatan kualitas hidup serta upaya pencegahan terhadap penyakit yang ada

dengan ti dak mengesampingkan upaya-upaya penyembuhan terhadap penyakit yang telah

terjadi. Meskipun terdapat peningkatan upaya-upaya dari tahun-tahun sebelumnya namun

masih banyak pula masyarakat di area-area tertentu yang belum terjangkau dengan pelayanan

kesehatan yang memadai karena pemahaman masyarakat yang minim tentang perilaku hidup

bersih dan sehat.

Sesuai dengan fokus PTFI dan LPMAK untuk berperan dalam pemberdayaan masyarakat maka

fokus program kesehatan masyarakat adalah di bidang: Kesehatan Ibu dan Anak; Pengendalian

Malaria; Pengendalian HIV & AIDS; Pengendalian TB; serta Air bersih dan Sanitasi, dimana pada

masing-masing program kesehatan masyarakat tersebut terdapat komponen –komponen:

• Promosi dan Pendidikan Kesehatan

• Menyediakan Media Promosi Kesehatan

• Pelati han dan pemberdayaan masyarakat

• Program Survey dan surveillance

• Program berbasis kampung

Pada tahun 2010 kegiatan kesehatan masyarakat LPMAK masih ditujukan pada wilayah sasaran

di ti ngkat distrik, secara khusus di 4 distrik yang sudah ditargetkan sejak 2009 lalu yaitu: Mimika

Barat, Mimika Timur Jauh, Agimuga dan Tembagapura.

Bagian Pendidikan Kesehatan dan Promosi yang bertugas di PHMC bagian Masyarakat Lokal

(C-PHMC ) telah melakukan kegiatan promosi dan pendidikan kesehatan bagi sekitar 139.000

dalam bentuk diskusi kesehatan, sesi kelompok dan maupun dalam bentuk acara khusus seperti

Hari AIDS Sedunia, Hari TB Sedunia dan sebagainya. Topik yang diangkat berhubungan dengan

masalah kesehatan masyarakat, gaya hidup sehat dan epidemi penyakit seperti : Malaria, TB, HIV,

bahaya merokok, posyandu, bahaya alkohol, penyakit cacingan, demam berdarah, kebersihan

lingkungan, diare, infeksi saluran pernapasan akut, nutrisi, kesehatan anak serta hak asasi

manusia. Sebanyak 24.756 materi promosi dan media telah didistribusikan kepada masyarakat

seperti poster, brosur, sti ker dan kondom.

1.1 Program Kesehatan Ibu dan Anak

Program ini dilakukan LPMAK bekerjasama dengan YPCII (Yayasan Pembangunan Citra Insan

Indonesia) yang sebelumnya disebut sebagai PCI (Project Concern Internati onal). Fokus

kegiatan adalah peningkatan dan memperkuat program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di

kampung-kampung target yang telah diselenggarakan sejak tahun 2008 dengan program

bernama “Membangun Inisiati f Masyarakat, Ibu, Keluarga dan Anak Sehat” atau disingkat

“MIMIKA Sehat” dimana telah ditempatkan beberapa fasilitator lapangan di 12 kampung

(meningkat dari 9 kampung di tahun 2009) target untuk melanjutkan kegiatan ruti n berupa

revitalisasi Posyandu, program Pos Anak Sehat (PAS) dan Tempat Belajar Mama (TEMBEM),

sebuah program pendidikan kesehatan bagi para ibu, Pos Obat Kampung, Pos Malaria

Kampung.

Pada tahun 2010 ini juga, LPMAK bekerjasama dengan YPCII melakukan pelati han bagi

para pelati h (training for trainer) mengenai “Manajemen Terpadu Balita Sakit Berbasis

Masyarakat (MTBS)”. Pelati han ini diberikan kepada bidan dan fasilitator masyarakat dari

beberapa kampung agar mereka dapat membantu para kepala kampung untuk melati h

masyarakat untuk menangani penyakit pada anak-anak mereka. Juga beberapa pelati han

lainnya diantaranya pelati han Juru Malaria Kampung, Penyegaran program Pelayanan

Kesehatan Bersumber Masyarakat (PKBM), Pelati han Pengelolaan Sampah.

Pencapaian signifi kan dari program KIA di 12 kampung sasaran adalah:

• Mendukung pelaksanaan 12 Posyandu dengan ti ngkat parti sipasi 52% dari total

balita di area pelayanan Posyandu yang ditargetkan, dimana 51% dari balita tersebut mengalami peningkatan berat badan.

Melakukan program gizi s • ecara ruti n di 4 sekolah.

• Bersama masyarakat membentuk 10 ti m kesehatan di 10 kampung.

• Melakukan sosialisasi perilaku hidup sehat kepada masyarakat di 12 kampung

sasaran.

• Mengaktifkan Pos Obat Kampung di 5 kampung Kamoro.

1.2 Pengendalian Malaria

Sampai saat ini malaria masih merupakan salah satu penyakit penyebab angka kesakitan

terti nggi di kabupaten Mimika, khususnya di daerah dataran rendah. Data dari RS Mitra

Masyarakat (RSMM) yang terkumpul sejak tahun 2005 menunjukkan bahwa Malaria selalu

berada di tempat kedua setelah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) penyebab pasien

sakit, dan merupakan penyakit terbanyak pada unit rawat inap. Karena itu pengendalian

Malaria merupakan salah satu fokus utama program kesehatan masyarakat.

Kegiatan program Pengendalian Malaria oleh PTFI telah mulai terlaksana sejak tahun

1992 melalui Departemen Public Health and Malaria Control (PHMC), bersamaan dengan

pembangunan proyek infrastruktur di dataran rendah. Kegiatan program dilakukan khusus

pada beberapa area perumahan karyawan PTFI dan masyarakat yang di-relokasi karena

pembukaan tambang yang saat ini dikelola oleh I–PHMC.

Dalam hal pengendalian malaria di masyarakat umum, biro Kesehatan LPMAK telah

bekerjasama secara erat dengan C-PHMC dan Dinas Kesehatan Mimika dalam berbagai

program pengendalian malaria di kabupaten Mimika. Kerjasama yang dilakukan difokuskan

pada upaya pengendalian, pencegahan dan pelayanan kesehatan bagi penderita malaria.

Beberapa pencapaian pada tahun 2010 yaitu:

• Memberikan pelati han teknik penyemprotan dalam ruangan (Indoor Residual

Spraying) bagi 47 warga lokal dari 4 distrik

• Sosialisasi dan kampanye pencegahan malaria bagi sekitar 4.000 orang dengan

menggunakan media video, brosur dan diskusi kelompok.

• Penyemprotan (IRS: Indoor Residual Spraying) di 22 kampung di 4 distrik (Total

2.354 rumah – mencakup 87% dari jumlah rumah yang ada) serta pendistribusian

1.700 kelambu nyamuk.

• Biro kesehatan LPMAK melakukan peningkatkan standar kualitas dan pengontrolan

contoh sampel malaria bekerjasama dengan departemen Kesehatan Masyarakat

dan Pengendalian Malaria PTFI.

1.3 Penanggulangan HIV & AIDS

Prevelensi HIV & AIDS di provinsi Papua merupakan yang terti nggi di Indonesia, yaitu 2,4%

pada populasi dewasa (Survey Terpadu HIV dan Perilaku, Depkes, USAID, WHO 2006). PTFI

menyadari dampak jangka panjang dari penyakit ini, sehingga sejak 1996 melalui PHMC

telah memulai program penanggulangan HIV dan AIDS di kabupaten Mimika, dan PTFI

merupakan pelopor dalam upaya penanggulangan penyakit ini di Papua.

Upaya yang dilakukan PHMC dan Biro Kesehatan LPMAK meliputi program promoti f,

preventi f sampai kepada program kurati f. PHMC dan LPMAK juga bekerjasama dengan

Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) kabupaten Mimika. Pada tahun 2010 LPMAK mendukung

terbentuknya KPA di ti ngkat distrik, sehingga dengan demikian diharapkan pendidikan

pencegahan HIV & AIDS dan perubahan pelaku kepada masyarakat dapat lebih merata.

Untuk mendukung kegiatan tersebut LPMAK, pada tahun 2010 LPMAK kembali merekrut

dan melati h penyuluh lapangan sukarela sebanyak 68 orang sehingga total penyuluh

sukarela akti f berjumlah 70 orang dari total 120 penyuluh yang ada. Para penyuluh

lapangan yang tergabung dalam KPA distrik di wilayah rural yang telah dilati h, juga memulai

mengembangkan kelompok-kelompok dukungan sebaya di kampung-kampung sehingga

diharapkan program sosialisasi pencegahan HIV & AIDS dapat mencapai seluruh lapisan

masyarakat di Kabupaten Mimika.

Untuk diagnosis dan pengobatan serta perawatan penderita HIV dan AIDS, RSMM, telah

ditunjuk oleh pemerintah Indonesia menjadi pusat rujukan pengobatan bagi penderita AIDS

sejak 2005. Kegiatan standar seperti Voluntary, Councelling and Testi ng (VCT) dan Care,

Support and Treatment (CST) telah dilaksanakan oleh petugas terlati h di RSMM. RSMM telah

memberikan pengobatan bagi lebih dari 188 penderita AIDS. Demikian pula dengan RSWB,

rumah sakit ini juga sudah melayani 43 penderita AIDS khususnya yang menetap di wilayah

dataran ti nggi.

Sepanjang tahun 2010 PTFI dan LPMAK terlibat dalam berbagai akti fi tas yang bertujuan

untuk mengurangi penyebaran HIV & AIDS di masyarakat. Program-program yang dilakukan

antara lain:

• Pelati han bagi 13 remaja dan 9 guru untuk menjadi penyuluh sukarela.

• Sosialisasi dan pendidikan tentang HIV & AIDS di 4 distrik untuk sekitar 5.000

orang.

• Menyediakan program VCT keliling di empat distrik dimana 442 orang turut

berparti sipasi.

• Berdirinya dua cabang Komisi Pemberantasan AIDS Distrik (KPAD) di Distrik

Agimuga dan Distrik Tembagapura.

1.4 Sarana Air Bersih dan Sanitasi

Setelah sukses dengan proyek pembangunan sumur dan jamban bagi seluruh masyarakat

kampung Amungun, Aramsolki dan Fakafuku dengan metode pemberdayaan masyarakat,

Pada tahun 2010 PTFI dan LPMAK melanjutkan kegiatan tersebut di beberapa kampung

lainnya. Di kampung Fanamo dan Omawita PTFI dan LPMAK membangun 15 sumur untuk

melengkapi 51 unit fasilitas penampung air hujan yang menyediakan air bersih bagi sekitar

1.000 warga yang telah diselesaikan pada tahun 2009. Sementara itu di kampung Iwaka

dibangun 46 unit fasilitas penampung air hujan yang dibangun dengan menggunakan pola

pengembangan kapasitas masyarakat. Sementara itu 78 jamban keluarga tambahan telah

dibangun di Fanamo, Omawita, Ipiri, Paripi dan Yaraya serta 10 unit penyaring air biosand di

kampung Fanamo dan Omawita.

2. Pelayanan Kesehatan melalui RSMM dan RSWB

Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) dan Rumah Sakit Waa Banti (RSWB) adalah rumah sakit

yang didirikan dengan menggunakan Dana Kemitraan PTFI. RSMM dioperasikan oleh Yayasan

Caritas Timika (YCT), sementara RSWB oleh Internati onal SOS.

Pembangunan RSMM dan RSWB pada awalnya dilakukan untuk merespon kebutuhan pelayanan

kesehatan memadai yang begitu ti nggi dan mendesak di Kabupaten Mimika. Sampai saat ini

di kedua rumah sakit tersebut, masyarakat asli lokal mendapatkan subsidi pembiayaan dari

LPMAK. Mereka hanya perlu membayar uang administrasi sebesar Rp. 5.000 sampai Rp.10.000,

sementara biaya pelayanan kesehatan ti dak dibebankan sama sekali. Pada tahun 2010 kedua

rumah sakit tersebut melayani sekitar 123 ribu pasien rawat inap dan rawat jalan, dimana

sekitar 78% diantaranya adalah pasien ti dak mampu yang mendapatkan subsidi penuh.

2.1 Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM)

RSMM merupakan rumah sakit “ti pe C” yang memberikan pelayanan kesehatan secara

paripurna meliputi aspek promoti f, preventi f, kurati f dan rehabilitati f. RSMM menyediakan

pelayanan empat spesialisti k (bedah, penyakit dalam, kebidanan, dan anak) serta kunjungan

reguler spesialis mata. RSMM telah dilengkapi dengan peralatan penunjang medis yang

canggih untuk mendukung pelayanan.

RSMM dibuka pada bulan Agustus tahun 1999 untuk memberikan pelayanan kesehatan

umum dan rujukan, bagi masyarakat di Kabupaten Mimika, khususnya masyarakat di daerah

dataran rendah. Namun pada operasinya rumah sakit ini juga telah memberikan kontribusi

yang signifi kan bagi pelayanan kesehatan rujukan bagi masyarakat dari dataran ti nggi dan

kabupaten-kabupaten di sekitar Mimika.

Jumlah kunjungan pasien di RSMM selama tahun 2010 menunjukkan sedikit peningkatan

pada rawat jalan (1,49%), sebaliknya pada rawat inap sedikit penurunan sebesar 1,55%

dibandingkan kunjungan tahun 2009.

Terdapat beberapa perubahan dibanding tahun sebelumnya yaitu kunjungan pasien yang

ti dak disponsori oleh LPMAK meningkat 16% pada rawat jalan, dan 10% pada rawat inap.

Ada beberapa penyebab yang mungkin terjadi dari peningkatan kunjungan pasien ini seperti

pelayanan di RS pemerintah yang belum terlalu opti mal serta bertambahnya penduduk

Timika, khususnya non-7 suku. Hal tersebut mengubah komposisi pasien RSMM, dimana

pada tahun 2009 kunjungan rawat inap pasien LPMAK dibanding non-LPMAK adalah 77% :

23% pada tahun 2010 menjadi 74% : 26%. Sementara untuk rawat jalan yang sebelumnya

81% : 19%, menjadi 78% : 22%. Perubahan diperkirakan akibat semakin bertambahnya

migrasi penduduk ke Timika dari daerah-daerah lain dan serta karena berfungsinya sistem

rujukan yang telah dijalankan oleh klinik-klinik yang ada.

2.2 Rumah Sakit Waa Banti (RSWB)

RSWB adalah rumah sakit “ti pe D” yang mulai beroperasi pada April 2002, terletak di

Banti , dan melayani masyarakat di wilayah dataran ti nggi. Pengelolaannya diserahkan

kepada Internati onal SOS, suatu perusahaan internasional yang profesional dalam bidang

kesehatan. Selain memberikan pelayanan kesehatan pada aspek kurati f dan rehabilitati f

kepada masyarakat, RSWB juga melakukan kegiatan pada aspek promoti f dan preventi f yang

diintergerasikan dengan program kesehatan masyarakat LPMAK.

Jumlah kunjungan pasien di RSWB selama tahun 2010 menunjukkan sedikit peningkatan

sebesar 1,08% pada rawat jalan, tapi penurunan sebesar 21,32% pada rawat inap

dibandingkan kunjungan tahun 2009. Penurunan kunjungan rawat inap ini kemungkinan

disebabkan oleh hambatan transportasi dari dataran rendah ke dataran ti nggi dan

sebaliknya sehingga transmisi penyakit juga sangat berkurang termasuk Malaria.

Profil : PT. Bukit Asam UP Ombilin


PT. Tambang Batubara Bukit Asam ( persero ) Tbk, Unit Pertambangan Ombilin merupakan perusahaan pertambangan batubara yang tertua di Indonesia karena aktivitasnya penambangannya telah dilakukan semenjak jaman kolonial Belanda. Pada tahun 1868 untuk pertama kalinya ditemukan lapisan batubara di Ulu Air tepi sungai Ombilin ( Ceungan Ombilin ) oleh Ir. WH De Greeve, seorang sarjan Belanda yang ditugaskan pemerintah kolonial untuk bertugas di Indonesia.

Pada tanggal 22 Oktober 1872, Ir. WH De Greeve meninggal dunia dan pada tahun 1875 penyelidikan diteruskan oleh Ir. RDM Verbeck yang menemukan cadangan batubara sebesar 205 juta ton yang tersebar di Sungai Durian, Sigalut, Tanah Hitam, dan Prambahan.

Pada bulan Juni 1891 dilakukan persiapan penambangan dan pada bulan November 1891 lubang bukaan telah sampai pada lapisan batubara yang dipimpin oleh Ir. W gode Frot.

Sejak saat itu mulailah berkembang usaha pertambangan batubara degan para pekerja yang di datangkan dari pulau Jawa, karena penduduk setempat kurang menyukai pekerjaan tambang. Di pertambangan ini juga pernah memanfaatkan narapidana sebagai pekerja, kemudian pada tahun 1938 semua pekerja diganti buruh bebas. Pelaksanaan penambangan diawali dengan galian kecil-kecilan disertai dengan pembuatan lubang di kaki bukit yang dinamakan gallery, kemudian berkembang menjadi suatu lorong yang menembus bukit.

Untuk menjelaskan mengenai Tambang Batubara Ombilin, maka pada tanggal 24 November 1891 ditetapkan rancangan Undang-undang pertambangan Ombilin, yang kemudian di sahkan pada tanggal 28 Desember 1891 oleh pemerintah Belanda ( LembagaNegara No. 223 )

Pada tanggal 3 Juli 1891, lembaran Negara no.375 Tambang Batubara Ombilin dikelola oleh departemen Usaha-usaha Pemerintah dengan karyawan yang terdiri dari buruh kontrak dan buruh bebas. Pada tahun 1950 sampai tahun 1958 Tambang Batubara Ombilin berada di bawah pengawasan Direktorat Pertambangan. Kemudian pada tahun 1958 sampai tahun 1961 tambang Batubara Ombilin berada di bawah naungan biro Umum Perusahaan Tambang Negara, dan diteruskan oleh Badan Pimpinan Umum Tambang Batubara tahun 1961 sampai tahun 1968. Pada tahun 1968 Tambang Batubara Omblin berada di bawah pengawasan Perusahaan Umum Batubara, kemudian berdasarkan peraturan pemerintah no. 56 yang di syahkan tanggal 30 Oktober 1990, perum tambang batubara digabung dengan PT. Tambang Batubara Bukit Asam dan menjadi PT. Tambang Batubara Bukit Asam ( persero ) Unit Pertambangan Ombilin disingkat denga PT. BA UPO sampai sekarang ini.

Keputusan direksi PT. Tambang Batubara Bukit Asam nomor 123/SK/PTBA-PERS/2005 tanggal 8 April 2005, dilakukan penetapan struktur organisasi.

PT. Tambang Batubara Bukit Asam UPO memiliki struktur yang bertanggung jawab penuh kepada direktur utama PT. Bukit Asam UPO Tbk.

Rabu, 14 Desember 2011

UI: "Insinyur Terbaik di Indonesia ada di PTFI"

Para dekan Universitas Indonesia (UI) yang berkunjung (26-28/1) ke wilayah kerja PT Freeport Indonesia (PTFI) mengaku gembira melihat berbagai perkembangan yang dilakukan di perusahaan. Hal ini disampaikan oleh Bambang Shergi Laksmono, Dekan FISIP UI yang memimpin rombongan dekan UI pada pertemuan dengan Presiden Direktur & CEO PTFI Armando Mahler di Hotel Rimba Papua, Timika (26/1).

Tim UI juga menyampaikan apresiasinya atas kesempatan yang diberikan perusahaan untuk dapat melihat langsung kegiatan operasional penambangan PTFI. "Merupakan suatu harapan bagi UI sebagai perguruan tinggi tertua serta memiliki multidisiplin ilmu yang terlengkap di Indonesia untuk dapat membangun relevansi keilmiahan dengan perusahaan yang merupakan unggulan industri dan teknologi di Indonesia", ujar Dekan FISIP UI.
Rombongan Dekan UI terdiri dari Dekan Fakultas Hukum Safri Nugraha, Dekan Fakultas Teknik Bambang Sugiarto, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Bambang Shergi Laksmono, Dekan Fakultas Psikologi Wilman Dahlar Mansoer, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Bambang Wispriyono, Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Bambang Irawan, Dosen FISIP UI Chusnul Mar’iyah, dan Humas FISIP UI, Raymond Michael Menot. Kunjungan ke PTFI merupakan kunjungan para dekan UI ke Papua dimana sebelumnya telah dilakukan kunjungan ke Universitas Cenderawasih di Jayapura
. Tim UI didampingi Vice President - Tax & Legal PTFI Rini Ranty berkesempatan mengunjungi tambang terbuka Grasberg, pabrik pengolahan, tambang bawah tanah Big Gossan, Institut Pertambangan Nemangkawi, Rumah Sakit Mitra Masyarakat dan program reklamasi PTFI di Mile Post 21. "Saya sangat terkesan dengan apa yang telah dicapai oleh insinyur-insinyur Freeport di berbagai lokasi-lokasi yang saya lihat hari ini. Insinyur terbaik di Indonesia berada di Freeport", ujar Bambang Sugiarto.

Pada jamuan makan malam manajemen PTFI di dataran rendah yang juga dihadiri oleh beberapa staf alumni UI, tim UI disambut oleh Executive Vice President - External Relations PTFI Sonny Kosasih dan perwakilan manajemen di dataran rendah. Riza Pratama, Corporate Social Responsibility Officer PTFI berkesempatan memberikan pemaparan mengenai gambaran umum perusahaan kepada tim UI. Sedangkan pada kunjungan di dataran tinggi, tim UI disambut oleh Executive Vice President - Operations PTFI Hunter White, perwakilan manajemen di dataran tinggi, dan juga alumni UI di Tembagapura. Saat jamuan makan malam tersebut tim UI mendapatkan presentasi khusus mengenai Graduate Development Program PTFI, yang disampaikan oleh General Superintendent - Career Development Center PTFI Rudy Fadjaruddin, serta
cinderamata dari perusahaan yaitu buku "Dari Grasberg ke Amamapare", buku profil kota Tembagapura dan sebuah patung kecil terbuat dari bahan aluminum yang didaur ulang sebagai bagian dari program 3R (Reduce, Reuse, Recyle - Mengurangi, Menggunakan Kembali, Mendaur Ulang) PTFI.

Ekslusif : CSR PT.Freeport Indonesia 2010



Sepanjang tahun 2010 program pengembangan masyarakat yang didukung oleh PT Freeport Indonesia (PTFI) dan Dana Kemitraan PTFI yang

dikelola oleh Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK), mencapai hasil yang signifi kan dan memberikan manfaat

bagi masyarakat:

Bidang Kesehatan

Pada tahun 2010, LPMAK menandatangani dua kerjasama penti ng dengan mitra utamanya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan bagi

masyarakat di Kabupaten Mimika. LPMAK dan Dinas Kesehatan Mimika menandatangani kesepakatan kerjasama selama 3 tahun yang

mencakup bidang pengembangan sistem rujukan; pelayanan kesehatan; peningkatan kapasitas pusat pengendalian penyakit (khususnya

TB dan Malaria); serta transportasi dan dukungan bagi penyelidikan kejadian luar biasa di daerah terpencil. Selain itu LPMAK dan Yayasan

Caritas Timika (YCT) menandatangani Perpanjangan Perjanjian Kerjasama terkait dengan pengelolaan RSMM. Perpanjangan kerjasama

sementara ini akan berakhir pada tanggal 31 Januari 2011 yang merupakan satu langkah penti ng dalam menegosiasikan kualitas pelayanan

kesehatan yang diberikan oleh YCT dalam pengoperasian satu-satunya rumah sakit yang berakreditasi (ti pe C) di Papua.

PTFI dan LPMAK juga melanjutkan kerjasama dengan mitra-mitranya dalam pengembangan dan pelaksanaan program kesehatan masyarakat

yang difokuskan pada masalah kesehatan ibu dan anak, pengendalian malaria, pengendalian infeksi dan penyakit menular seksual seperti

HIV & AIDS dan TB, serta dukungan infrastruktur air bersih dan sanitasi. Beberapa pencapaian penti ng dari program-program ini seperti :

dukungan pengelolaan bagi 12 Posyandu; kampanye kesehatan dan pola hidup sehat di sejumlah kampung di pedalaman Kabupaten Mimika;

penyemprotan residual di 2.354 rumah masyarakat untuk membasmi malaria; mendistribusikan 1.700 kelambu di 22 kampung; konseling

dan pelati han HIV & AIDS kepada hampir 5.000 orang dewasa dan remaja; serta pembangunan 46 unit sarana penampung air hujan dan 78

jamban keluarga bagi masyarakat di 4 kampung.

Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) di dataran rendah dan Rumah Sakit Waa Banti (RSWB) di dataran ti nggi terus memberikan pelayanan

kesehatan yang signifi kan bagi masyarakat di Kabupaten Mimika dan sekitarnya. Sejak dioperasikan sampai tahun 2010, kedua rumah sakit

tersebut telah memberikan pelayanan bagi hampir 1,2 juta kunjungan pasien.

Bidang Pendidikan.

Biro Pendidikan LPMAK terus melanjutkan dukungan bagi pembangunan bidang pendidikan di kabupaten Mimika serta terus melakukan

upaya-upaya bagi peningkatan akses pendidikan bagi putra-putri daerah. Pada tahun 2010 Biro Pendidikan LPMAK telah menyelesaikan

pembangunan sekolah semi asrama serta sebuah pembangkit listrik mikrohidro berkekuatan 15 kilowat, untuk mendukung kebutuhan

listrik program pendidikan di kampung terpencil Tsinga. Hingga akhir 2010, LPMAK memberikan dukungan beasiswa kepada 594 pelajar akti f

yang berasal dari masyarakat lokal untuk jenjang pendidikan SD sampai Universitas. Untuk tahun 2010 saja, LPMAK telah menambah 133

penerima beasiswa baru untuk program matrikulasi yang terdiri dari 58 pelajar SMA dan 75 mahasiswa. Pada tahun 2010 terdapat 38 peserta

beasiswa yang lulus dari Akademi/Universitas. Empat orang diantaranya lulus sekolah penerbangan di Tangerang dan satu orang lulus sarjana

Kedokteran dan satu orang lulus sarjana Kedokteran Gigi.

Bidang Pengembangan Ekonomi Masyarakat.

PTFI dan LPMAK terus bekerja sama dengan berbagai mitra untuk mendukung masyarakat setempat dalam meningkatkan ketahanan

pangan dan pengembangan usaha pertanian berkelanjutan. Pada tahun 2010, Gugus Tugas Ketahanan Pangan yang terdiri dari wakil-wakil

Pemerintah Kabupaten Mimika, PTFI dan LPMAK didirikan. Tujuan dari gugus tugas ini adalah untuk berbagi sumber daya sektor publik dan

swasta untuk meningkatkan keamanan pangan bagi masyarakat yang ti nggal di daerah terpencil di dataran ti nggi. PTFI dan LPMAK, didukung

oleh Pemerintah Kabupaten Mimika, juga menandatangani perjanjian kerjasama dengan USAID untuk secara bersama membiayai program

Aliansi Pembangunan Pertanian Papua (PADA) tahap kedua. Tujuan PADA ini adalah untuk memberikan pelati han, dukungan infrastruktur, dan

bantuan rantai pasokan pertanian kepada para petani dan nelayan di enam daerah percontohan proyek, yaitu: Timika, Kokonao, Agimuga,

Jila, Wamena, dan Moanemani. Pada tahun 2010, proyek kopi di Wamena berhasil menandatangani kontrak kerjasama dengan PT Pangan Sari

Utama untuk penyediaan 12 ton kopi selama satu tahun serta mengekspor satu kontainer kopi ke luar negeri.

PTFI dan LPMAK Biro Ekonomi juga terus bekerja sama dengan berbagai mitra untuk menyediakan bantuan teknis dan akses terhadap

modal keuangan untuk usaha yang dimiliki pengusaha asal Papua melalui Usaha Skala Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dan program

kelompok ekonomi (RIGA). Pada tahun 2010, program UMKM memberikan bantuan kepada 128 perusahaan lokal asal Papua, yang berhasil

mendapatkan pendapatan kotor sekitar Rp 79,9 miliar (USD $ 8,8 juta) dan menyerap tenaga kerja untuk sekitar 1.117 orang. PTFI juga

mendampingi dan membantu 193 nelayan dari 20 kampung-kampung pesisir pantai dimana total pendapatan mereka mencapai Rp 587 juta.

Bidang Pengembangan Infrastruktur.

PTFI terus melanjutkan dukungan bagi pembangunan infrastruktur bagi masyarakat sesuai dengan komitmen yang telah disepakati bersama.

PTFI telah mendukung perbaikan 456 rumah bagi masyarakat di SP 9 dan SP 12. Sementara itu pencapaian pembangunan proyek 3 Desa di

dataran ti nggi untuk tahun 2010 adalah 80%, sementara pencapaian keseluruhan proyek berdasarkan komitmen adalah 94%.

Sebagai bagian dari komitmen PTFI dalam pembangunan infrastruktur di ti ga desa tersebut, PTFI telah menyelesaikan pembangunan lapangan

terbang (lapter) perinti s di Mulu, Tsinga, yang diharapkan dapat membuka keterisolasian wilayah terpencil di dataran ti nggi Amungme.

Dengan kehadiran lapter ini perjalanan dari Timika ke Tsinga yang sebelumnya ditempuh 4 hari perjalanan kaki, menjadi hanya 15 menit

penerbangan. Sebagai tambahan, bahan pangan dan obat-obatan yang dibutuhkan oleh masyarakat setempat dapat didistribusikan dengan

lebih cepat dan dalam kondisi lebih baik.

Bidang Hubungan Masyarakat.

PTFI senanti asa menghormati dan menempatkan masyarakat lokal sebagai salah satu pemangku kepenti ngan yang utama di sekitar area

pertambangan. Namun demikian dengan dinamika yang terjadi pada masyarakat dan serta kondisi operasi tambang yang senanti asa berubah,

maka mungkin sekali terjadi perbedaan cara pandang antara kedua belah pihak. Karena itu, PTFI senanti asa terus berusaha melakukan

pendekatan yang dapat menghasilkan solusi terbaik sehingga hubungan harmonis antara masyarakat dan PTFI dapat terus berjalan dan

memberikan manfaat terbaik bagi kedua belah pihak. Selama tahun 2010 terdapat beberapa isu signifi kan tentang hubungan masyarakat lokal

dan PTFI. Penyelesaian isu-isu tersebut ti dak dapat diselesaikan oleh PTFI sendiri, karena itu PTFI berupaya bekerjasama dengan masyarakat,

Pemerintah Daerah dan pemangku kepenti ngan lainnya untuk mencari solusi yang terbaik. Isu-isu signifi kan tersebut adalah :

Pemukiman Tidak Terencana di dan sekitar PTFI (serta 1. Masalah Pendulang Ilegal).

Terkait masalah pemukiman ti dak terencana dan pengendalian pendulangan ilegal di sekitar area PTFI, selain telah melakukan

koordinasi dengan pemerintah Kabupaten Mimika, PTFI terus mensosialisasikan keamanan dan keselamatan pendulang yang bekerja

di daerah yang berbahaya karena sering terjadi tanah longsor dan banjir. Saat ini pemerintah Kabupaten Mimika, DPRD Mimika dan

pihak Kepolisian terus berkoordinasi untuk mencari solusi terbaik untuk penanganan masalah pendulangan liar di sekitar PTFI.

Beberapa kelompok masyarakat telah mendirikan bangunan tempat ti nggal dan membuka lahan kebun di area Kuala Kencana dan

hutan lindung di sekitar area PTFI. PTFI telah berkoordinasi dan melakukan pertemuan dengan pemerintah kabupaten Mimika dan

kelompok masyarakat tersebut untuk mencari solusi bagi masalah ini. Pembukaan lahan hutan lindung serta munculnya pemukiman

yang ti dak teratur dapat meningkatkan resiko malaria di area tersebut.

2. Keluhan masyarakat.

Dalam AMDAL PTFI 300K yang sudah disetujui oleh Pemerintah, telah diprediksi bahwa sedimentasi akan terjadi di sekitar daerah

muara sungai Ajkwa dan peningkatan kegiatan tambang bawah tanah diprediksi akan mempercepat ti ngkat sedimentasi tersebut.

Dampak dari sendimentasi di muara sungai Ajkwa adalah jalur transportasi air masyarakat di area muara menjadi terganggu. PTFI

telah merespon keluhan ini melalui kerjasama dengan pihak Insti tut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya untuk melakukan

studi transportasi air bagi masyarakat di muara sungai Ajkwa. Studi tersebut diharapkan selesia pada kuartal I tahun 2011 dan bisa

memberikan rekomendasi bagi permasalahan transportasi akibat sendimentasi di muara sungai Ajkwa.

3. Forum MoU 2002.

Untuk meningkatkan hubungan yang positi f dengan pemangku kepenti ngan utama dalam menjalankan operasinya, PTFI terus

meningkatkan komunikasi dan koordinasi dengan Lembaga Musyawarah Adat Suku Amungme (LEMASA) dan Lembaga Musyawarah

Adat Suku Kamoro (LEMASKO) yang merupakan representasi dari masyarakat Amungme dan Kamoro yang memiliki hak ulayat wilayah

operasi PTFI. Pada tahun 2010, PTFI telah memfasilitasi Lokakarya Forum MoU antara kedua Lembaga Adat tersebut dengan PTFI.

Lokakarya tersebut dilakukan di Tomohon, Manado dengan agenda utama adalah pembahasan tentang Peta Hak Ulayat Tradisonal

serta rencana audit keuangan dan program dari lembaga adat yang menerima bantuan dana dari PTFI. Lokakarya tersebut diikuti

sekitar 120 orang yang mewakili masyarakat adat dan PTFI.

Keberhasilan Departemen SLD/CR dalam melaksanakan program-program pengembangan masyarakat pada tahun 2010 dapat dicapai karena

dukungan dari mitra-mitra strategis PTFI yaitu Pemerintah Daerah Kabupaten Mimika, LPMAK, Pemangku Kepenti ngan Kunci, dan masyarakat.

Program pengembangan masyarakat untuk tahun 2011 tetap memfokuskan pada upaya peningkatan pencapaian pada tahun 2010. Sejalan

dengan ini, pada tahun 2011 PTFI (melalui departemen SLD/CR) dan LPMAK akan memprioritaskan pengintegrasian program pengembangan

masyarakat dengan berbagai program yang dikerjasamakan ataupun didukung oleh pihak-pihak eksternal seperti pemerintah Kabupaten

Mimika, kelompok masyarakat, lembaga donor dan pihak swasta lainnya. Tujuan pengintegrasian ini adalah untuk mengurangi adanya

duplikasi upaya, memaksimalkan dampak program bagi masyarakat, dan untuk memasti kan keberkelanjutan program.